Rabu, 19 Agustus 2009

Menyingkap Kiamat 2012

http://www.gatra. com/artikel. php?id=129209

Lapisan bumi retak. Tanah merekah dan amblas di mana-mana. Tidak sekadar
menciptakan efek gempa maksimal berskala 13 richter, melainkan juga benar-benar
menjungkirbalikkan dan menelan apa pun yang ada di muka bumi. Gedung-gedung
bertumbangan, memperlihatkan efek domino yang tragis. Jalan-jalan beton patah
dan amblas, melumat setiap mobil yang ada di atasnya.

Sejurus kemudian, hujan meteor berdiameter 3-6 meter jatuh dari balik awan yang
bergelantungan di langit biru. Hantamannya menimbulkan getaran. Semuanya
menghunjam bumi, menimbulkan lubang-lubang yang membara. Seiring dengan itu,
permukaan laut naik, menimbulkan gelombang setinggi ribuan meter. Dahsyat,
hingga puncak Himalaya pun tak luput dari empasannya.

Kemana pun makhluk hidup menghindar, mereka seperti dikejar malaikat maut.
Sebuah gambaran kiamat yang sempurna. Itulah trailer film 2012 karya Roland
Emmerich, yang Agustus nanti bisa ditonton publik. Sebelumnya, Emmerich
menggarap sejumlah film penuh efek, seperti Independence Day, The Day After
Tomorrow, dan 10.000 B.C. Cuplikan kiamat 2012 yang bisa diunduh melalui
internet itu demikian banal dan verbal.

Tidak demikian dengan Knowing, film thriller garapan sutradara asal Mesir, Alex
Proyas (The Crow, Dark City, dan I, Robot), bernuansa supranatural ini berkisah
tentang penyelamatan segelintir manusia pilihan dari bencana kehancuran bumi.
Pada menit-menit akhir film, penonton disuguhi bencana superekstrem. Detik-detik
ketika radiasi panas matahari menjilat permukaan bumi. Dorongannya mengempaskan
dan membakar apa saja yang dilewati. Tak satu pun bisa selamat. Bahkan mereka
yang menghindar dan bersembunyi di perut bumi sekalipun.

Kiamat sebenarnya bukan monopoli telaah ilmuwan. Sejumlah agama dan keyakinan
tradisional bahkan memuat nubuat akhir zaman itu. Gambaran kemusnahan dunia yang
tak disangka menjelang penghakiman terakhir, digambarkan dengan cara
apokaliptis. Momen sakral itu tidak saja diyakini secara harafiah, bahkan --oleh
para penganut tiga agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam)-- dipahami dengan
kacamata iman.

Belakangan, demam 2012 melanda publik. Diawali dengan munculnya puluhan buku
tentang penyingkapan tahun 2012. Antara lain: 2012: Mayan Year of Destiny,
Beyond 2012: Catastrophe or Awakening?, 2012: Science or Superstition, The
Mystery of 2012: Prediction, Prophecies, and Possibilities, How To Survive 2012,
Unlocking the Secrets of 2012, dan Fractal Time: The Secret of 2012 and a New
World Age.

Sejumlah penulis mengungkap bakal terjadinya kiamat pada 2012. Bencana itu bisa
terjadi karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Pemicunya:
perubahan drastis yang terjadi di muka bumi karena pemanasan global, erupsi
supervulkanik, pergeseran medan magnet bumi, koyaknya perisai magnet bumi,
radiasi panas matahari, tubrukan antarplanet, hingga efek badai awan
antarbintang.

Dari sejumlah karya, buku Apocalypse 2012: An Investigation into Civilization' s
End tulisan Lawrence E. Joseph --yang telah diterjemahkan dan diterbitkan
Gramedia Pustaka Utama-- bisa menjawab keingintahuan mengenai kiamat 2012.
Penulis tidak saja menyuguhkan cerita Harmagedon dari aspek ramalan bangsa Maya,
melainkan juga mengajak pembaca berkelana memasuki rahasia bumi, matahari, tata
surya, kosmis, galaksi, dan luar angkasa.

Joseph tidak saja menggali isi buku, jurnal ilmiah, hasil simposium, hingga
ramalan dukun terkait 2012. Ia juga mencari pengetahuan pada sejumlah temuan
misi luar angkasa NASA (badan antariksa Amerika Serikat) dan ESA (badan
antariksa Eropa). Tak ketinggalan pula, ia berusaha menyingkap tabir rahasia
2012 dengan bertanya kepada para fisikawan dan ilmuwan luar angkasa yang
tergila-gila pada prospek 2012.

Di dunia internet, ratusan situs meramaikan pro dan kontra soal ramalan bangsa
Maya. Bahkan resep teknis dan spiritual dalam menghadapi kiamat pun tersajikan.
Yang paling menarik adalah penjelajahan memasuki ranah astronomi. Bagaimana
superorganisme seperti bumi mengalami evolusi dalam interaksi dengan matahari,
planet lain, serta energi dan materi yang ada di ruang angkasa.

Mengapa 2012?

Angka 2012 mendadak menggetarkan banyak orang. Muncul karena bangsa Maya
--berdasarkan sistem "perhitungan panjang"-nya- - meramalkan bahwa pada 21
Desember 2012 (21/12/12) akan terjadi gangguan pada rotasi bumi. Pada waktu itu,
tata surya, dengan matahari sebagai pusatnya, akan menutupi pemandangan pusat
galaksi Bimasakti dari bumi. Ini terjadi setiap 26.000 tahun sekali.

Ketika itu terjadi, maka terputusnya pancaran dari pusat galaksi akan merusak
mekanisme normal di bumi dan tata surya. Konsekuensi fenomena itu adalah bencana
dan dislokasi dalam skala global karena pergeseran konfigurasi planet, sekecil
apa pun. Tentu, sebagai sebuah ramalan, kebinasaan yang bakal terjadi pada 2012
adalah prospek. Bisa terjadi, tapi ada kemungkinan luput.

Bahkan, kalaupun bencana itu tiba, belum tentu seluruh permukaan bumi luluh
lantak dan semua kehidupan musnah. Namun skenario terburuk telah menjadi
pemikiran banyak ilmuwan dan astronom. Sebab kini tugas ilmu pengetahuan tidak
sekadar membongkar rahasia alam semesta. Meramalkan, memprediksi, dan mencari
alternatif keluarnya secara ilmiah adalah sebagian dari tanggung jawab para
ilmuwan.

Kini para ilmuwan terus sibuk mencari korelasi bintik matahari dan
ledakan-ledakan surya yang lain dengan fenomena di muka bumi, seperti badai,
topan, letusan vulkanik, dan berbagai gempa besar. Lebih dari 10 satelit
penelitian matahari diluncurkan sejak Helios I dan II mengangkasa pada
pertengahan 1970. Mayoritas satelit dikirim NASA dan ESA. Pada 1980, misalnya,
misi Maksimum Matahari dikirim guna mengamati aktivitas surya pada puncak daur
bintik matahari.

Lalu, pada 1990, satelit Ulysses diluncurkan dengan tujuan khusus pada bagian
tertentu spektrum matahari, seperti sinar-X, ultraviolet, dan angin surya.
Satelit yang disponsori NASA dan ESA itu, menurut kantor berita Reuters, 30 Juni
lalu, akan segera mengakhiri tugasnya. Misi tersebut berumur empat kali lebih
lama dari prediksi semula. Satelit sebesar mobil VW itu, dengan kecepatan 56.000
kilometer per jam, telah menempuh perjalanan hampir 8,85 milyar kilometer atau
sepadan dengan tiga kali putaran orbit matahari.

Diperkirakan, ketika jarak Ulysses dengan matahari sekitar 705 juta kilometer,
transmisi kontak wahana tak berawak dengan bumi itu akan mati. Ed Smith,
peneliti di laboratorium pendorong jet NASA, Pasadena, California, menyatakan
bahwa data yang diperoleh selama misi memperlihatkan gambaran yang belum pernah
ada mengenai siklus aktivitas matahari dan tata surya serta konsekuensinya. "Hal
itu akan menjadi bahan riset para peneliti untuk beberapa tahun mendatang,"
katanya, seperti dikutip Reuters.

Lebih dari 1.000 artikel ilmiah dan dua buku dihasilkan dari informasi yang
diperoleh Ulysses. Selain mengungkap adanya angin surya dan faktor-faktor
penyebabnya, Ulysses juga mendalami partikel-partikel yang dipancarkan matahari
ke seluruh tata surya. Ternyata aliran kuat partikel-partikel sub-atom yang
memancar dari surya hingga 1 juta mil per jam berkurang hingga level terendah
dalam 50 tahun terakhir.

Data berharga lainnya adalah info mengenai kawasan kutub matahari, debu
antariksa di tata surya, planet Jupiter, dan objek transitnya. Info baru yang
bisa diketahui manusia, menurut Ed Smith dari NASA, adalah soal heliosfer.
"Ulysses telah memformat ulang pengetahuan soal heliosfer dan menyuguhkan
informasi tentang lingkungan sekitar tata surya yang belum banyak terungkap,"
ujar Smith.

Heliosfer adalah selubung pelindung yang dihasilkan matahari melalui anginnya
bagi bumi dan tujuh planet lain yang mengitarinya. Angin surya itu berperan
menyapu radiasi dan sinar kosmik yang datang dari galaksi lain. Secara teori,
heliosfer yang melemah akan membuat masuknya sinar kosmik ke tata surya makin
besar. Radiasi sinar kosmik yang makin kuat tentu makin membahayakan para
astronot ketika berada di luar angkasa.

Ancaman Bintik Surya

Selain Ulysses, generasi satelit terbaru yang memelototi aktivitas surya dalam
relasinya dengan bumi adalah SOHO (Solar and Heliospheric Observatory
--Pengamatan Surya dan Heliosfer) yang meluncur pada 2 Desember 1995. Tugas
utamanya adalah mengidentifikasi lontaran CME (coronal mass ejections) atau
ledakan bintik matahari, letupan surya, angin surya, dan semacamnya, yang menuju
ke bumi. Info itu berguna bagi para ilmuwan untuk mengupayakan perlindungan
terhadap satelit, pembangkit listrik surya, dan berbagai teknologi yang sensitif
terhadap surya.

Faktanya, kini hanya sedikit satelit yang diberi perisai letupan surya dengan
alasan mahal, tidak praktis, dan membatasi fungsi satelit. Bisa dibayangkan,
jika serentetan badai surya massif terjadi sepanjang 2012, maka kelumpuhan
telekomunikasi kamersial karena gangguan pada satelit-satelit akan terjadi. Kini
SOHO terus memberikan informasi ke kontrol misi yang dikelola NASA di Goddard
Space Flight Center di Maryland, tak jauh dari Washington.

CME adalah gas awan superpanas yang keluar dari surya dan melesat melalui ruang
antarplanet. Ia menciptakan gelombang kejut yang meningkatkan kecepatan beragam
partikel. Banyak proton di depannya terkena efek desakan dan menghasilkan badai
proton. CME bergerak dengan kecepatan 1.000 sampai 2.000 kilometer per detik.
Jika CME mengarah ke bumi, efeknya akan dirasakan satu atau dua hari kemudian.

Dua dasawarsa ini memang menjadi momen bagi para ilmuwan untuk mengerubuti
matahari, pusat tata surya, yang ribuan tahun dimengerti manusia sebagai sumber
stabilitas dan energi bagi kehidupan. Untuk menyelidiki struktur magnetik
--termasuk bintik matahari yang muncul di permukaan surya-- maka meluncurlah
TRACE (Transition Region and Corona Explorer). Penjelajah Kawasan dan Korona
Transisi ini akan melengkapi RHESSI (Reuven-Ramaty High Energy Solar
Spectroscopic Imager --Pencitraan Spektroskopi Surya Kekuatan Tinggi
Reuven-Ramaty) , yang menyajikan citra sinar-X dan sinar gama letupan surya
sejak 2002.

Bahkan, sejak 2003, University of Colorado, dengan Laser and Spectrum Physics
Laboratory, mengoperasikan satelit SORCE (Solar Radiation and Climate
Experiment) untuk menjawab rasa penasaran atas efek matahari terhadap atmosfer
bumi. SORCE akan ditemani armada satelit STEREO yang diluncurkan NASA, satelit
Yokoh B yang diluncurkan badan antariksa Jepang, dan Solar Dynamics Observatory
(SDO) milik NASA.

Satelit STEREO berfungsi bak sepasang mata yang menyediakan gambar tiga dimensi
CME. Lalu Yokoh B akan menyediakan gambar-gambar resolusi sangat tinggi pada
kejadian di matahari. Sedangkan SDO bertugas mengurai dampak kejadian di
matahari terhadap bumi.

Belakangan, ada pemikiran yang didasarkan pada temuan ilmiah bahwa
planet-planet, termasuk bumi, membantu timbulnya bintik matahari dan sekaligus
dipengaruhi olehnya. Konfigurasi dan jajaran planet memberi pengaruh besar
kepada matahari. Pengetahuan tentang konfigurasi planet dan efek energinya
terhadap tata surya terus berkembang, tidak sekadar dalam tataran astrologi atau
ilmu ramalan, melainka juga ranah ilmiah murni.

Tim inti ilmuwan angkasa mengemukakan bahwa planet bumi secara reguler
memancarkan pengaruh elektromagnetik dan gravitasi yang signifikan terhadap
matahari. Perlu dipahami bahwa surya berkarakter cair dan lembek, sehingga lebih
rentan terhadap tarikan magnetik dan gravitasi. Empat planet dalam yang berada
di sisi matahari seolah dibatasi asteroid yang memisahkan Mars dan Jupiter. Dari
empat planet dalam, yakni Merkurius, Venus, bumi, dan Mars, ternyata bumi
memiliki massa terbesar, medan gravitasi terkuat, dan medan magnet terbesar.

Dengan demikian, relasi matahari-bumi berjalan dua arah. Ada sistem umpan balik
energik antara matahari dan bumi yang melahirkan berbagai fenomena menarik nan
dahsyat. Topan, letusan vulkanis, gempa bumi, dan kejadian iklim/seismik lain
pada saat sejumlah besar energi dilepaskan tak lain adalah efek hubungan bumi
mempengaruhi dan dipengaruhi bintik matahari. Ada pergeseran pandangan bahwa
tidak hanya matahari yang mempengaruhi bumi, melainkan ada hubungan energi dua
arah, meskipun pengaruh matahari jelas lebih besar.

Nah, apa yang terjadi jika efek saling mempengaruhi medan magnet itu terjadi
pada 11 planet, plus matahari. Matahari, 10 planet tata surya, termasuk planet X
terbaru, dan bulan --satelit bumi-- saling menarik. Pengaruh terbesar muncul
jika gabungan planet berada dalam posisi segaris 0 derajat atau bisa saja
membentuk bujur sangkar 90 derajat. Sejumlah konfigurasi mampu memicu keretakan
lapisan luar matahari dan mengaduk-aduk isinya.

Richard Michael Pesichnyk dan ilmuwan angkasa lainnya memegang keyakinan bahwa
sudut antarplanet menentukan pengaruh relatif planet-planet. Demikian pula,
pusat massa tata surya tidak berada di inti matahari. Pusat massa itu selalu
berubah, sebagai dampak pola orbit dan jajaran planet. Menurut Thomas Burgess,
fisikawan kuantum benda-benda padat, jajaran planet dapat bergerak ke titik yang
hanya berjarak 1 juta mil atau 1,6 juta kilometer dari matahari.

Jika hal itu terjadi, matahari akan mengembung ke arah pusat massa tata surya.
Semakin besar daya tarik gravitasi terhadap matahari, semakin besar pula
kemungkinan permukaan matahari merekah dan bocor, melepaskan apa yang disebut
"radiasi terpenjara", yang puluhan ribu tahun terperangkap dalam selubung luar
matahari.

Pada kondisi normal, radiasi itu merambat dari matahari secara stabil dan hampir
konstan. Namun, ketika permukaan matahari terkoyak, "radiasi terpenjara" itu
akan meletup, menimbulkan ledakan besar. "Radiasi terpenjara dapat lolos dari
matahari lewat robekan atau gelembung negatif," kata Burgess, seperti dikutip
Lawrence E. Joseph. Gelembung negatif itu berwujud cekungan di permukaan
matahari. Kondisi ini membuat radiasi akan mudah menembus massa yang lebih
sedikit.

Runyamnya, menurut perhitungan Burgess, jumlah total terbesar daya tarik-menarik
planet-planet terhadap matahari bakal terjadi pada akhir 2012. Bintik surya
maksimum yang diperkirakan terjadi tahun itu akan makin memperburuk situasi
karena bakal membantu desakan matahari dengan tekanan maksimum.

Di samping itu, kutub magnetik matahari yang berganti posisi setiap 22 tahun,
pada puncak setiap daur kedua, diprediksi akan terjadi pada 2012. Hal ini bakal
meningkatkan ancaman bahaya. Kemungkinan ledakan besar mematikan akan dialami
bumi sejak kemunculan manusia.

Perisai Magnetik Bumi Terkoyak

Daya serangan radiasi matahari itu akan makin besar ketika medan magnet
pelindung bumi ternyata juga terkoyak. Para ahli geofisika telah lama meneliti
rekahan sebesar California yang muncul di medan magnet pelindung bumi dari
Hermanus Magnetic Observatory, Tanjung Barat Daya, Afrika Selatan. Pieter Kotze,
seorang ahli geofisika di Magnetic Observatory, telah mendokumentasikan
penipisan medan magnet pelindung bumi.

Kotze mendapatkan data itu melalui komputer canggih yang dapat menganalisis data
dari sensor elektromagnetik yang tertanam di bawah tanah. Medan magnet bumi
berasal dari perputaran inti besi cair bumi. Memang hukum inersia dan hukum yang
mengatur listrik serta magnetisme tidak bisa dianulir. Namun medan magnet
pelindung yang membentengi permukaan bumi dari radiasi proton dan elektron yang
berlebihan tidak bersifat abadi.

Berlimpahnya radiasi surya ternyata juga akan menghalangi sinar kosmis. Padahal,
sinar kosmis berupa partikel dan gelombang luar angkasa yang sangat aktif
berperan dalam sebagian besar formasi awan di sekitar bumi. Awan, terutama yang
melayang rendah, membantu menghalangi radiasi inframerah panas dari matahari.
Proses ini sangat membantu menjaga permukaan bumi tetap dingin.

Terkoyaknya medan magnet bumi atau magnetosfer adalah sebuah ancaman. Pasalnya,
medan magnet bumi berfungsi memantulkan radiasi surya dan menyalurkannya ke
sabuk yang mengelilingi atmosfer luar planet bumi. Magnetosfer ini berupa medan
elektromagnetik raksasa yang menyembur dari kedua kutub, laiknya perilaku bijih
besi di sekitar magnet batang dan mengembang jauh di atmosfer.

Menurut Kotze, medan magnet antarplanet (interplanetary magnetic field, yang
pada intinya merupakan medan magnet yang memancar dari matahari, juga
mempengaruhi ukuran dan bentuk magnetosfer. Ternyata medan magnet antarplanet
bisa memperkuat magnetosfer dengan masukan energi surya. Pada waktu lain, medan
magnet antarplanet menekan medan magnet bumi, membuat makin padat,
membelokkannya, dan bisa mengoyaknya.

Perisai pelindung bumi itu secara elementer bertugas melindungi organisme hidup
di permukaan bumi. Magnetosfer bumi menyalurkan radiasi surya ke dua sabuk, yang
dikenal sebagai sabuk radiasi Van Allen. Sabuk yang ditemukan James A. Van Allen
melalui Explorer I dan Explorer II pada 1958 itu terbentang pada ketinggian
10.000 hingga 65.000 kilometer.

Dalam pandangan Lawrence E. Joseph, banyak ilmuwan yang belum menemukan jawaban
mengapa medan magnet mulai menipis. Perkiraan terbesar, karena adanya turbulensi
di medan magnet antarplanet sampai kekacauan fluktuasi inti cair bumi. Fenomena
penipisan itu mengundang spekulasi bertukarnya posisi kedua kutub planet bumi.
Riset terhadap sampel inti es dan sedimen dari dasar laut mengindikasikan bahwa
kutub magnetik pernah bertukar tempat. Terakhir kali terjadi kira-kira 780.000
tahun lalu.

Pergeseran kutub itu membawa konsekuensi dahsyat pada muka bumi. Geolog William
Hutton menyatakan, pergeseran kutub tipe kemerosotan mantel bumi akan memicu
pergeseran awal ekuator di atas permukaan bumi. Ketika ekuator bergerak memasuki
daerah baru di permukaan bumi, kawasan itu akan mengalami perubahan daya
sentrifugal dan ketinggian permukaan laut.

Gejala ini akan menyebabkan pembagian baru daratan dan laut serta akan terjadi
gerakan tektonis di kerak bumi. Bencana seismik dan tektonis pun bakal sulit
terhindarkan.

Meskipun pergeseran itu akan terjadi dalam waktu lama, yang pasti, memudarnya
medan magnet bakal melemahkan efek perlindungannya. Permukaan bumi akan jauh
lebih rentan terhadap radiasi, yang terus membombardir dari luar angkasa.

Kejadian alam yang mengagetkan para ilmuwan adalah retaknya perisai radiasi
surya dan kosmis selama sembilan jam, sepanjang 160.000 kilometer, yang dikenal
dengan sebutan anomali Atlantik Selatan. Menurut Kotze, penipisan medan magnet
bumi kemungkinan memicu penipisan lapisan ozon. Ini terjadi, ketika radiasi
proton matahari menembus perisai magnetik bumi, reaksi kimia di atmosfer
terpengaruh. Suhu pun meningkat tajam dan tingkat ozon di stratosfer menurun
drastis.

Penipisan ozon itu akan membuat atmosfer menjadi lebih mudah ditembus sinar
ultraviolet matahari. Bencana lebih besar tak bisa diprediksi. Terutama ketika
bumi menuju pergolakan abnormal solar maksimum, yang diproyeksikan terjadi pada
2012. Radiasi surya dan kosmis akan memicu berbagai persoalan kesehatan,
jaringan listrik, iklim, dan lingkungan hidup.

Memasuki Badai Awan Energi

Pengetahuan manusia mengenai penciptaan terus berkembang. Ketika ilmu
pengetahuan belum matang seperti saat ini, kisah penciptaan seperti pada Kitab
Kejadian mendominasi hampir selama dua abad. Kini ledakan besar (big bang)
diyakini sebagai awal alam semesta. Alam semesta pun mengembang secara merata ke
segala penjuru. Tidak ada yang tetap diam di alam semesta ini, baik dari dimensi
panjang, lebar, tinggi, maupun waktu.

Pada konteks alam semesta yang dinamis dan terus bergerak, menurut Dr. Alexey
Dmitriev, ahli geofisika dari Russian Academy of Science, bumi pada saat ini
tengah berada dalam zona bahaya galaksi. Dmitriev adalah geofisikawan yang
memiliki 200 publikasi akademis, kebanyakan tentang geofisika dan meteorologi,
baik tentang bumi maupun planet lainnya.

Pada saat mengorbit pusat galaksi, matahari dengan tata suryanya melewati
berbagai area angkasa yang berbeda. Beberapa di antaranya memiliki energi lebih
besar dibandingkan dengan yang lain. Dmitriev mengingatkan, kini hujan badai
antarbintang sedang dilewati tata surya. Bisa dipahami bahwa meningkatnya
aktivitas surya adalah akibat langsung meningkatnya aliran materi dan energi
ketika tata surya memasuki awan energi antarbintang.

Dmitriev mengemukakan tiga hal di alam semesta yang selama ini dikesampingkan
para ilmuwan ortodoks. Tiga hal itu adalah kondisi dinamis dan tambahan media
antarplanet, dampak energi dari konfigurasi planet-planet tata surya, serta
adanya impuls dari pusat galaksi. Tiga hal itu begitu mempengaruhi bumi.

Bumi, selain berotasi sendiri dan mengelilingi matahari, juga bagian dari tata
surya yang bergerak di orbit tak dikenal melalui galaksi Bima Sakti, yang juga
berkelana di alam semesta. Ketika tata surya mengorbit dan ikut berkelana
menumpang galaksi Bima Sakti, diyakini oleh sebagian fisikawan bahwa saat inilah
tata surya memasuki awan energi.

Tata surya ibarat pesawat yang menjelajah dan mulai memasuki turbulensi
antarbintang. Ini terjadi karena adanya ruang antarbintang yang sifatnya
heterogen. Seperti objek yang melewati media lain, heliosfer (tata surya) yang
masuk ke ruang antarbintang lain menciptakan gelombang kejut. Kekuatan gelombang
akan bertambah besar ketika heliosfer memasuki kawasan angkasa yang lebih padat.
Gerakan ini, menurut Dmitriev, bakal membentuk aliran materi dan energi dari
ruang antarplanet ke tata surya.

Energi yang disuntikkan ke kawasan antarplanet bisa mengejutkan matahari secara
inkonsisten, membebani medan magnet bumi, dan memperparah pemanasan global di
bumi. Fenomena awan energi antarbintang ini juga menjadi kajian Vladimir B.
Baranov. Ilmuwan Rusia ini mengembangkan model matematis heliosfer berdasarkan
data dari Voyager.

Model Baranov itu, dari telaah para ilmuwan Rusia, Eropa, dan Amerika Serikat,
mengindikasikan kaitan hingga 96% antara data Voyager, informasi NASA dan ESA,
serta evaluasi dasar energi dan ruang yang dikerjakan Dmitriev. Isinya dugaan
bahwa heliosfer akan berada dalam gelombang kejut selama 3.000 tahun
selanjutnya. Sejumlah observasi pada planet-planet luar sejak 2006
memperlihatkan sejumlah anomali.

Uranus dan Neptunus mengalami pergeseran kutub magnetik. Jupiter memperlihatkan
efek gelombang kejut dan melipatgandakan medan magnetnya hingga melebar sampai
ke Saturnus. Bahkan, sejak Maret 2006, muncul bintik merah baru di Jupiter,
seukuran bumi. Di lokasi bintik merah, yang disebut Oval BA, itu kini terjadi
badai elektromagnetik tanpa henti.

Efek gelombang kejut itu juga dialami planet-planet dalam. Atmosfer Mars,
misalnya, semakin padat. Komposisi kimia dan kualitas optikal atmosfer Venus
berubah menjadi makin bercahaya. Juga matahari, yang berada di pusat heliosfer,
karena susunan materinya menjadi lebih rentan terhadap efek energi dibandingkan
dengan planet lain. Bumi sendiri --dan planet yang lain-- berada dalam bahaya
ganda sebagai dampak langsung gelombang kejut dan pergolakan yang muncul di
matahari.

Menurut hipotesis Gaia Lovelock, yang dikemukakan Gaia James Lovelock, pada
prinsipnya bumi berupa superorganisme. Ia bukan bongkahan batu dan air yang tak
bernyawa. Esensi hipotesis itu adalah sistem umpan balik negatif, di mana
biosfer menyesuaikan dan mengatur dirinya sebagai kompensasi atas gangguan
eksternal.

Nah, mekanisme adaptif biosfer ketika memasuki badai awan energi itu bisa berupa
apa saja. Jika tiba-tiba panas karena memasuki awan energi antarbintang, biosfer
akan mencari jalan untuk mendinginkan tubuhnya. Salah satu jalan adalah dengan
ledakan supervulkanik, yang bisa membawa bumi pada zaman es. Tantangan biosfer
bakal makin besar karena awan energi antarbintang juga akan menyuntikkan kilat
dan gelombang panas, cahaya, serta radiasi elektromagnetik ke sistem iklim bumi.

G.A. Guritno
[Nukilan, Gatra Nomor 38 Beredar Kamis, 30 Juli 2009]

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Silahkan ...

 

Suprihono Blog Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template